Teknologi TeknologiTopik harian dengan konteks dan sudut pandang yang jelas.
tech

Dari Nangpinoh, Belajar Teknologi Bukan Sekadar Gawai Mahal

Steven Wulandari berbagi pengalaman menggunakan teknologi di Nangpinoh. Cerita tentang sinyal, smartphone, dan adaptasi di daerah tanpa hiruk-pikuk kota.

25 Apr 2026 · 3 menit baca · oleh Steven Wulandari
Dari Nangpinoh, Belajar Teknologi Bukan Sekadar Gawai Mahal

Duduk di teras rumah sambil menyeruput kopi, mata saya tak lepas dari layar ponsel yang terus berganti menampilkan ikon "mencari sinyal". Di Nangpinoh, akses internet memang belum semulus di kota besar. Tapi justru dari sini saya belajar satu hal: teknologi bukan soal siapa yang punya gawai termahal, melainkan bagaimana kita memanfaatkan apa yang ada untuk tetap terhubung dengan dunia. Selama delapan tahun menulis soal tekno, saya sering mendengar keluhan yang sama dari tetangga atau teman di grup WA — koneksi lemot, sinyal hilang-timbul, atau baterai ponsel cepat habis karena memang harus terus mencari jaringan. Namun di balik keterbatasan itu, banyak juga kisah adaptasi kreatif yang patut diacungi jempol.

Internet di Pinggir: Antara Harapan dan Kenyataan

Di daerah seperti Nangpinoh, internet bukan sekadar alat streaming atau media sosial. Internet adalah jembatan menuju layanan publik, pendidikan, dan peluang ekonomi. Saya ingat seorang ibu-ibu yang jualan kue rumahan mulai promosi lewat WhatsApp setelah saya ajari cara foto produk dengan ponsel. Sekarang pesanannya datang dari luar kota. Tapi memang, infrastruktur belum merata. Saya sering menjadikan pengalaman sendiri sebagai bahan tulisan — saat harus berjalan seratus meter ke bukit kecil cuma untuk dapat sinyal 4G stabil. Dari sini saya paham, inovasi teknologi tidak akan berarti tanpa pemerataan akses. Seperti yang ramai dibahas di Kompas Tekno, pemerintah terus menggenjot proyek satelit dan BTS di daerah terluar agar kesenjangan digital bisa dikikis pelan-pelan.

Ilustrasi sinyal internet di daerah terpencil

Smartphone, Jendela ke Dunia yang Tak Selalu Mewah

Satu hal yang membuat saya tersenyum setiap kali melihat antrean di konter pulsa — orang-orang datang bukan cuma untuk isi ulang, tapi juga minta tolong instal aplikasi atau backup kontak. Di sini, smartphone bukan sekadar alat komunikasi; ia menjadi pusat belajar, berjualan, bahkan hiburan murah. Saya sering membagikan tips sederhana: mengatur mode hemat daya, mematikan aplikasi latar yang boros data, atau memanfaatkan mode offline. Bukan hal aneh melihat remaja di warung kopi berbagi tethering sambil nonton tutorial YouTube. Mereka paham betul cara memaksimalkan perangkat meski dengan spesifikasi pas-pasan. Dari pengalaman itu, saya sadar literasi digital seringkali lebih penting dari sekadar memiliki ponsel terbaru.

Seorang pria memegang ponsel di ruang tamu sederhana

Tips Sederhana agar Tetap Terkoneksi Tanpa Frustrasi

Dari tahun ke tahun, saya mengumpulkan trik-trik kecil yang ternyata ampuh. Pertama, atur jadwal update otomatis aplikasi hanya saat malam hari agar tidak mengganggu browsing siang. Kedua, manfaatkan fitur "Data Saver" di ponsel Android — ini bisa mengurangi konsumsi data hingga 30% tanpa terasa. Ketiga, jangan ragu mencoba operator lain jika sinyal satu provider buruk; kadang kartu kedua jadi penyelamat. Saya sendiri selalu membawa dua ponsel: satu untuk telepon dan SMS, satu lagi khusus data. Kedengarannya ribet, tapi di lapangan perbedaan antara terhubung dan putus komunikasi sering hanya selembar SIM card. Tips-tips sederhana ini saya bagikan bukan sebagai pakar, melainkan sebagai sesama pengguna yang pernah menggeleng-geleng lihat loading berputar tanpa henti.

Yang menarik, banyak teman di kota mungkin meremehkan kebiasaan seperti ini. Tapi bagi kami di sini, setiap kilobita berharga. Setiap notifikasi masuk adalah kabar baik bahwa sinyal masih ada. Dan ketika akhirnya video call dengan keluarga di perantauan berjalan lancar tanpa patah-patah, rasanya teknologi benar-benar mempersempit jarak. Dari Nangpinoh, saya belajar bahwa kemajuan bukan diukur dari berapa banyak perangkat canggih yang dimiliki, melainkan dari kemampuan kita tetap tersenyum meski sinyal hanya satu batang. Teknologi, pada akhirnya, adalah alat yang paling manusiawi ketika digunakan untuk saling merangkul.

Tag: #teknologi #internet #daerah #smartphone